Kemenperin juga menggelar business matching yang mencakup spesifikasi komponen, supplier assessment, prototipe, dan pengujian.
Program tersebut diarahkan hingga IKM memenuhi kualifikasi sebagai pemasok industri.
“Orientasi akhirnya adalah terciptanya komitmen pembelian,” ungkap Reni.
Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah peserta business matching.
“IKM harus menjadi bagian dari rantai pasok, menciptakan nilai tambah, meningkatkan produktivitas, dan pada waktunya mampu bersaing di pasar global,” tegas Reni.
Pada 2026, Ditjen IKMA juga memetakan kebutuhan komponen kendaraan listrik dan kemampuan produksi IKM.
Program tersebut turut mencakup pelatihan perakitan serta servis kendaraan listrik roda dua dan kendaraan listrik multiguna roda tiga.