Program Konversi Motor Listrik Berisiko Gagal dan Berpotensi Membebani Keuangan Negara

Jumat 03-04-2026,09:00 WIB
Reporter : Ilyasa Fajrin
Editor : T. Sucipto

Proses konversi satu motor membutuhkan dana berkisar Rp 12 juta hingga Rp 16 juta.

Angka ini dianggap tidak sebanding jika melihat harga motor baru di pasar.

Tanpa adanya subsidi yang menarik, masyarakat cenderung enggan melakukan proses konversi tersebut.

"Jika keputusan sepenuhnya diserahkan kepada pemilik kendaraan, mereka pasti enggan melakukan konversi ke motor listrik akibat tingginya biaya yang harus dikeluarkan,” tambah Fabby Tumiwa.

BACA JUGA:Bukan Sekadar Gaya, Skuter Listrik Ringkas Ini Dirancang Tangguh Hadapi Jalanan Kota

Program konversi ini merupakan kelanjutan kebijakan dari era pemerintahan sebelumnya.

Kementerian ESDM mencanangkan target besar guna mencapai net-zero emission di masa depan.

Namun, data menunjukkan bahwa target tahunan sering kali meleset dari rencana awal.

Pada tahun 2023, target 50.000 unit hanya tercapai sekitar 1.000 unit saja.

BACA JUGA:Vespa Klasik Dikonversi Jadi Mesin Listrik dengan Tetap Pertahankan Transmisi 4 Percepatan

Revisi target tahun 2024 menjadi 50.000 unit juga kembali mengalami kegagalan.

Fabby meminta agar Kementerian ESDM segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program ini.

Ekosistem konversi harus diperkuat mulai dari rantai pasok baterai hingga standar motor.

"Kegagalan pencapaian target ini harus dievaluasi oleh Kementerian ESDM dengan melakukan pembenahan melalui penguatan ekosistem pendukung konversi motor listrik nasional," ujar Fabby Tumiwa.

BACA JUGA:Harga BBM April 2026 Resmi Tetap: Dompet Aman, Braysis Nggak Perlu Panic Buying!

IESR mengusulkan agar pemerintah merencanakan ulang target yang lebih terukur dan realistis.

Kategori :