Kewaspadaan membantu pengendara menentukan tindakan yang tepat ketika kondisi lalu lintas berubah secara mendadak.
3. Jangan Memaksakan Selap-Selip
Mencari celah sempit di antara kendaraan dapat meningkatkan risiko bersenggolan dengan kendaraan lain.
Pengendara sebaiknya mengikuti aliran lalu lintas dan menghindari manuver yang berpotensi membahayakan pengguna jalan lainnya.
BACA JUGA:Bocoran Motor Listrik Baru VinFast Terungkap, Bawa Gaya Maxi Siap Tantang PCX?
4. Tetap Patuhi Rambu Lalu Lintas
Kemacetan tidak menghapus kewajiban pengendara untuk mengikuti rambu, marka jalan, serta menggunakan lajur sesuai peruntukannya.
Pengendara juga sebaiknya tidak menggunakan trotoar atau melawan arah untuk menghindari antrean kendaraan.
Ketentuan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
5. Kendalikan Emosi Selama Perjalanan
Antrean panjang dapat membuat pengendara merasa jenuh dan mudah terpancing emosi ketika perjalanan berlangsung lebih lama.
Pengendara perlu menjaga ketenangan supaya tidak melakukan manuver agresif yang dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
Agus menambahkan, kebiasaan sederhana dapat menjadi langkah penting dalam membangun budaya keselamatan berkendara.
“Budaya #Cari_Aman bisa dimulai melalui kebiasaan menjaga jarak, mematuhi aturan, menghormati pengguna jalan, dan mengendalikan emosi,” jelas Agus.
WMS terus menjalankan edukasi keselamatan berkendara melalui berbagai kegiatan untuk sekolah, perusahaan, komunitas, serta masyarakat umum.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya WMS memperluas pemahaman mengenai pentingnya keselamatan sebagai tanggung jawab seluruh pengguna jalan.