Industri tersebut juga memberikan dampak positif terhadap investasi, manufaktur, serta penciptaan lapangan kerja.
“Tantangan ke depan bukan lagi hanya mendorong adopsi kendaraan listrik, tetapi juga memaksimalkan nilai tambah domestik, investasi, penciptaan lapangan kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional,” tegas Purbaya Yudhi Sadewa.
BACA JUGA:Menkeu Purbaya Pastikan Insentif Kendaraan Listrik Berlanjut untuk Dukung Industri Otomotif
Ia menambahkan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi faktor penting dalam mempercepat transformasi menuju kendaraan rendah emisi.
Sinergi tersebut dinilai mampu meningkatkan daya saing industri otomotif Indonesia.
Diskusi GIAC dipandu Jahen Fachrul Rezki dari LPEM FEB UI.
Sejumlah pembicara internasional turut memberikan pandangan mengenai kebijakan, inovasi, serta peluang kerja sama global bagi industri otomotif Indonesia.
Forum tersebut menghadirkan Andrew Nasuri dari GAIKINDO, Oliver Sperling dari Kedutaan Besar Jerman, serta Mitsuru Myochin dari Kedutaan Besar Jepang di Indonesia.
Kehadiran mereka memperkaya perspektif mengenai perkembangan industri otomotif dunia.
Selain GIAC, GIIAS 2026 juga menggelar Daily Seminar pada 5 dan 6 Agustus 2026.
Seminar pertama membahas evaluasi peta jalan industri otomotif nasional agar tetap kompetitif menghadapi perubahan pasar.
BACA JUGA:ALVA Hadirkan Beragam Promo Menarik Selama GIIAS 2026
Seminar berikutnya mengangkat pengelolaan limbah baterai kendaraan listrik secara berkelanjutan.
Pembahasan difokuskan pada tantangan daur ulang, pengembangan industri hijau, serta kolaborasi lintas sektor.
Melalui GIAC dan Daily Seminar, GIIAS 2026 tidak hanya menjadi pameran kendaraan terbaru.
Program tersebut juga memperkuat perannya sebagai wadah edukasi, kolaborasi, dan pengembangan strategi bagi masa depan industri otomotif Indonesia yang inovatif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.