Pergerakan data serapan pasar sejak awal tahun berjalan memang terpantau bergerak sangat fluktuatif.
Pada awal tahun, pengiriman unit tercatat berada di angka 577.763 unit.
BACA JUGA:Dishub DKI Jakarta Gandeng Komunitas Ojol Tingkatkan Keselamatan dan Ketertiban Berkendara
Volume penjualan kemudian merangkak naik menuju angka 587.354 unit pada periode Februari.
Memasuki bulan ketiga, pasar mendadak terkoreksi cukup tajam menjadi hanya sebesar 448.974 unit.
Kondisi lesu tersebut sempat terbayar dengan lonjakan pengiriman pada April yang naik hingga 16 persen.
Sayangnya, grafik performa kembali melemah pada akhir bulan kelima tahun ini.
Penyusutan volume dari April ke Mei setara dengan kehilangan pasar sebanyak 41.584 unit kendaraan.
Fluktuasi ini membuktikan adanya tantangan ekonomi yang memengaruhi daya beli masyarakat.
Melihat kondisi yang dinamis, pihak asosiasi tetap optimis mengenai prospek bisnis industri roda dua ke depan.
Mereka memprediksi pasar domestik akan bertahan pada kondisi stabil.
BACA JUGA:Aprilia Hadirkan SR 125 Tribute Edition, Skuter dengan Tampilan Militer
Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia, Sigit Kumala, sempat memaparkan pandangannya mengenai target industri nasional.
Ia menyampaikan bahwa dengan mempertimbangkan berbagai dinamika global, asosiasi memperkirakan pasar motor dalam negeri tetap kokoh.
Sigit Kumala mengestimasi total penjualan motor secara domestik mampu menutup akhir tahun pada kisaran angka 6,4 juta hingga 6,7 juta unit kendaraan.
Target ini dinilai cukup realistis untuk dicapai.