AISI secara aktif menjalin komunikasi dengan pemerintah guna mencari solusi terbaik bagi semua pihak.
Harapannya, kenaikan pendapatan daerah tidak harus dibayar dengan penurunan daya beli masyarakat luas.
Dukungan berupa insentif pajak dinilai sangat krusial untuk menjaga ritme permintaan motor di pasar domestik.
Sigit menekankan pentingnya keseimbangan antara kebijakan fiskal daerah dengan kemampuan ekonomi para calon pembeli kendaraan.
BACA JUGA:Dapat Suntikan Dana Jutaan Dollar, OMOWAY Percepat Ekspansi Motor Listrik Pintar ke Pasar Global
Beliau berharap pemerintah memberikan ruang bagi masyarakat melalui skema pemberian insentif yang tepat sasaran.
"Kami memahami kebutuhan kenaikan pendapatan setiap pemerintah daerah,” kata Sigit.
“Kalaupun ada kenaikan opsen, kami berharap dapat diberikan juga insentif dengan tidak menaikkan pajak kendaraan sehingga dampaknya tidak berpengaruh ke permintaan konsumen," tambah Sigit.
Selain faktor kebijakan domestik, AISI juga mewaspadai dampak berganda dari kondisi geopolitik di kancah internasional.
BACA JUGA:Korlantas Polri Mulai Matangkan Operasi Ketupat 2026 demi Kelancaran Mudik Lebaran
Ketegangan global berpotensi memengaruhi rantai pasok komponen otomotif dan harga energi dunia secara signifikan.
Hal ini tentu akan memberikan dampak tidak langsung terhadap harga jual sepeda motor di tanah air.
Selain itu, fluktuasi harga komoditas ekspor unggulan Indonesia turut menentukan kekuatan daya beli masyarakat.
Kondisi cuaca yang tidak menentu juga diprediksi akan memengaruhi sektor pertanian dan ekonomi pedesaan tahun ini.
BACA JUGA:Yamaha Gebrak Awal Tahun 2026 dengan Warna Baru XMAX Connected yang Makin Maskulin
Meski begitu, pelaku industri tetap menyiapkan strategi mitigasi guna meminimalkan hambatan produksi dan distribusi.